Sabtu, 17 Januari 2015

Potensi Perkembangan Properti di Indonesia

         


          Indonesia Property Watch melakukan pengamatan terhadap pergerakan bisnis properti di Indonesia, terdapat beberapa lokasi yang perlu dicermati terkait dengan potensi kejenuhan pasar akibat ancaman over supply di masa yang akan datang.

Namun meskipun demikian, tidak semua lokasi mengalami perlambatan pembangunan. Karena beberapa sektor di beberapa lokasi justru menunjukkan peningkatan menyusul perkembangan pasar properti di Jabodetabek yang bisa dikatakan relatif sudah jenuh.

Yang terjadi adalah pergeseran dari sebuah sektor ke sektor lain dikarenakan kondisi pasar yang telah jenuh. Secara umum diperlihatkan bahwa segmen hunian landed (tapak) mengalami pergeseran dari segmen atas ke segmen menengah (Rp500 juta – Rp1 miliar) selain itu di sektor apartemen juga terjadi pergeseran ke segmen menengah (Rp300 juta – Rp500 juta).

Fenomena apartemen pun telah muncul di Serpong, dikarenakan harga tanah yang sudah semakin tinggi di wilayah ini mengakibatkan pengembang memilih untuk pengembangan hunian vertikal untuk memberikan tingkat optimalisasi lahan yang lebih baik. Pasokan untuk rumah mewah pun semakin terbatas karena harga sudah mencapai titik jenuh.
Di sektor perhotelan khususnya di Bali juga telah memasuki pasar jenuh dengan banyaknya investor yang membangun hotel. Aktivitas ini membuat harga tanah ikut naik dan makin tinggi. Namun ternyata tidak menyurutkan investor untuk membangun hotel meskipun secara investasi dipertanyakan tingkat kelayakannya dengan harga tanah yang sudah membumbung tinggi.

Namun demikian, di Indonesia bagian Timur ternyata justru menunjukkan perkembangan yang cukup baik mengejar ketinggalannya setelah perkembangan properti wilayah Barat sempat berkembang pesat. Sebut saja Surabaya dan Makasar yang masih berpeluang untuk sektor komersial di masa yang akan datang.

Namun tentunya ketika sebuah wilayah mempunyai potensi, maka biasanya fenomena latah akan kembali muncul dengan banyaknya inevstor yang ikutan masuk ke sektor yang sama di wilayah yang sama pula. Waspada akan batasan limitasi pasar seharusnya menjadi pertimbangan sehingga pasar properti lebih sehat dan solid.

Berikut daftar kota-kota yang masih potensial ataupun sudah jenuh untuk investasi properti.


* Medan: peluang sektor komersial.

* Bogor: kondotel dan perumahan menengah masih berpotensi.

* Bekasi: waspadai over supply apartemen menengah. Namun perumahan menengah masih berpotensi.

* Depok: waspadai over supply apartemen menengah. Namun, rumah menengah masih berpotensi.

* Tangerang: rumah mewah memasuki jenuh. Tapi, waspadai apartemen menengah. Rumah menengah masih sangat berpotensi, dan properti komersial sedang tumbuh.

* DKI Jakarta: pusat perdagangan masih jenuh. Apartemen mewah mulai jenuh. Namun, apartemen menengah dan juga perkantoran di beberapa lokasi non CBD berpotensi.

* Bandung: hotel budget mulai memasuki jenuh, namun kondotel di beberapa lokasi masih berpotensi.

* Yogyakarta: hotel budget mulai jenuh.

* Malang: apartemen menengah mahasiswa masih berpotensi.

* Surabaya: apartemen dan perkantoran berpotensi bangkit.

* Bali: hotelelatif sudah jenuh, terjadi perang tarif. Namun, villa masih berpotensi di beberapa lokasi.


* Makassar: perumahan menengah dan komersial berpotensi. 
WID

Tidak ada komentar:

Posting Komentar